wafatmu menyadarkanku

Iya hidup dan mati memang misteri illahi. Betapa tak berdayanya aku dihari ke-5 (sepasar kata orang jawa) kelahiran putraku, putra yang kutunggu-tunggu kelahirannya setelah 9 bulan 14 hari didalam rahimku, ayahku (baca:ebest) menghembuskan nafas terakhirnya meninggalkan kami semua.

Tidak pernah saya mendengarnya berkeluh tentang sakit atau apapun tentangnya, yang saya tahu ebest selalu berbuat untuk kami bertujuh, berbuat untuk kehidupan terutama pendidikan kami, dan hingga hari itu tiba saya tidak mendengarnya mengeluh.

Sungguh hinanya saya, karena sifat sombong sempat hinggap difikiran saya.

Bagaimana tidak? Lahir dari keluarga untuk makanpun susah tapi saya bisa sarjana, dapat kerja sebelum lulus dan terakhir cita-cita untuk melahirkan normal pun dikabulkan Allah. Bangga lebih kearah sombong yang ada.

Inilah aku dan do’aku, inilah aku dan usahaku, aku dan aku itulah yang ada. Sehingga mungkin Allah memperlihatkan semua itu kecil dan saya tidak se-istimewa yang saya fikir. Menjelang aqiqah putraku, ebest meninggalkan kami, seharusnya rebbana hadrah yang kudengar tapi surat ikhlas lah yang menggema dirumah kami.

Iya. Saya bukan apa, bukan siapa untuk sekedar menerima hadiah-Mu dan keberhasilanku adalah sebagian dari Riyadhohnya.

ebest

Iklan

2 pemikiran pada “wafatmu menyadarkanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s